Posted by Abdul Adzim Irsad On Januari - 12 - 2013 0 Comment

Istri solehahNabi SAW, tidak hanya menjadi rujukan di dalam urusan ibadah, Beliau SAW menjadi teladan sejati di dalam menjalin hubungan suami istri, baik ketika di atas Rajang, atau sedang diluar rumah. Nabi SAW selalu menjadi isnpirasi bagi setiap orang yang pernah mengenalnya, baik muslim sejati, atau non muslim. Kesempurnaan Nabi SAW diabadikan oleh Allah SWT di dalam Alqur’an QS Al-Ahzab (33:21).

            Di dalam membangun mahligai rumah tangga, beliau SAW memeberikan teladan kepada seluruh pengikutnya dimana saja berada, dan sampai kapanpun, untuk umat manusia. Lihat saja, ketika beliau mengisahkan tata cara aT-taaruf (kenalan) meminta (melamar), menikah, bersetubuh, mendidik anak, serta melestarikan kemesaraan dengan istri.

Sebagai panutan sejati sepanjang jaman, beliau SAW juga memberikan trik menarik di dalam menjinakkan istrinya yang suka marah. Walaupun usia Nabi SAW sudah senja, tetapi beliau tidak pernah merasa kalau dirinya sudah tua. Justru, semakin usianya bertambah, Nabi SAW merasakan indahanya kemesraan remaja, seolah-oleh baru saja mengenal cinta.

Walaupun Nabi SAW memiliki istri lebih dari satu, tetapi  tetap mesra, dengan mereka. Tidak pernah satupun dari istrinya, kecuali merasakan paling disayang dan dicintai. Sikapadil ketika memiliki istri lebih dari satu (poligami) menjadi prioritas utama. Sampai-sampai, Nabi SAW tidak merelakan pengikutnya melakukan poligami, kecuali bisa memberikan cinta dan keadilan terhadap pasanganya.

Di dalam membangun kehidupan rumah tangga, ternyata Nabi memiliki cara (trik) menarik sebelum melangkah kepelamian. Tujuan utamanya, ialah agar supaya perjalanan cinta tidak kandas di tenggak jalan. Padahal, waktu itu sangat sulit memilih pasangan yang seiman.

Tradisi menyembah berhala, seperti; patung, kayu, batu serta jenis-jenis berhala masih menghiasi kehidupan masa itu. Kondisi seperti itu tidak membuat Nabi kesulitan, beliau ternyata mampu memilih pasangan yang seiman, walaupun usianya istrinya jauh lebih tua. Akan tetapi, perbedaan itu tidak menjadi masalah. Malahan, banyak sumber yang menyebutkan, Nabi dan Khodijah termasuk pasangan yang ideal, di dalam menajalani bahtera rumah tangganya.

Nabi dan Khodijah adalah teladan sejati di dalam membangun sebuah rumah tangga. Bukan berarti, para pengikutnya harus menikah wanita dengan status janda yang lebih tua usianya. Sebab, kendati Nabi menikahi janda, ternyata beliau menganjurkan kepada pengikutnya agar menikah dengan gadis perawan, cantik, menarik, serta kaya. Nabi menikah dengan Khodijah, karena petunjuk ilahi bukan karena birahi. Sebab, selama membangun bahtera, keduanya bahu membahu mempejuangkan agama Allah SWT.

Selanjutnya, sepeninggal istri tercinta, Nabi tak henti-henti meninggat kebaikan, serta keindahan ketika bersama membangun keluarga. Barulah, ketika menikah dengan Saudah bint Zam’ah dan Aiysah r.a. Nabi melanjutkan perjuangan berdakwah. Yang ingin ditekankan oleh penulis, Nabi s.a.w ternyata memberikan trik menarik di dalam memilih pasangan hidupnya. Tidak lain, tujuanya adalah agar supaya membangun keluarga yang berlandaskan Alqur’an, serta kehidupan Nabi SAW.

Yang harus diperhatikan, jangalah menghabiskan keindahan cinta dan kemesaraan itu sebelum pernikahan (pacaran). Biasanya, yang demikian itu akan menjadikan usia pernikahan tidak bertahan lama, karena cinta sudah dihabiskan sebelum matang. Jadilah seperti Rosulullah SAW, semakin bertambah usia pernikahan, semakin indah, dan semakin mesra, semakin dirasakan bahwa pernikahan itu selalu fresh dan fresh.

 


Facebook Like Box provided by technology news
  • Facebook