Posted by Abdul Adzim Irsad On April - 20 - 2011 1 Comment


Sering kali orangtua (suami istri), merasa risih ketika mencium istrinya di depan anak-anaknya. Sebagian besar ber-asumsi bahwa ciuman itu tidak pantas disaksikan oleh anak-anak. Sementara, telivisi dengan sinetron-sinetron menampilkan gambar-gambar yang kurang sedap dipandang mata, seperti; pelukan laki-laki dan wanita tanpa ikatan nikah, berciuman (kecupan), seperti; KD dengan Raul (sebelum menikah).

Selama kemesraan itu bukan hal-hal yang menimbulkan birahi. Maka yang demikian itu akan menjadi pelajaran paling berharga buat anak-anaknya. Kita tahu, bahwa rumah itu adalah tempat menumbuhkembangkan kasih sayang, cinta, serta keharmonisan antara anggota keluarga. Rumah juga menjadi tempat paling indah untuk bercanda antara orangtua dan putra-putrinya.

Rumah menjadi lebih indah ketika penghuninya benar-benar menghiasinya dengan bungga-bungga cinta dan kasih sayang antara ayah, ibu, serta anak-anaknya. Kemesraan yang ditampilkan di depan buah hati, membuat buah hati semakin merasakan arti dari sebuah kehangatan sebuah keluarga. Jadi, tidak ada alasan bagi orangtua untuk tidak menampilkan kemesraan di depan anak-anaknya.

Sebaliknya, hindari pertengkaran fisik, atau mulut didepan anak-anaknya. Sebab, pertengkaran itu akan memberikan kesan mendalam di dalam pertumbuhan putra-putrinya. Logikanya, jika orangtua sering menampilkan kata-kata yang kasar, kotor, dan sering mencaci (suami istri). Maka, semua yang terucap, akan direkan kuat dalam benak. Sehingga dalam pertumbuhan dan pergaulannya, akan menampilkan watak yang kaku dan kasar.

Ciptakan rumah bagaikan surga. Suara yang keluar dari lisan ayah-bundanya benar-benar mencerminkan sosok orangtua yang bijaksana dan mampu menuntun putra-putrinya menuju kebahagiaan dunia dan akhirat.

Biasakan mencium sebelum berangkat bekerja, atau ketika baru pulang dari kerja. Ciumlah tangan sang suami, perlihatkan kepada anak-anak sebagai pelajaran langsung. Tanamkan kepada anak-anak, yang boleh berciuaman itu hanyalah orangtua (suami istri).

Menurut Amy McCready, pendiri Positive Parenting Solutions itu akan menjadi pelajaran berharga bagi anak-anak saat mereka dewasa dan mulai menjalin hubungan serius.

Nabi Saw, sebagai panutan dan teladan, ternyata juga sangat mesra dengan istrinya. Hal ini diungkapkan oleh sang Istri (Aiysah ra). Terlepas dari kemesraan Nabi Saw bersama istrinya, yang jelas sebagai orangtua berkewajiban memberikan pelajaran tersebut sejak usia dini. Namun, jangan sampai memperlihatkan kemesraan itu menjadi konsumsi public.  Beberapa kemesraan yang tidak mengumbar birahi, dan perlu dicoba oleh setiap orangtua yang memiliki anak (balita) sebagai berikut:

1. Berpegangan tangan.

Ketika sedang berjalan, perlihatkan kepada anak-anak kemesraan. Sang Ibu memegang tangan Ayah. Tampakkan kepada mereka, bagaimana seorang Ayah melindungi ibunya. Dan ketika di dalam rumah, biasakan seorang ayah duduk berdekatan dengan Ibu, dengan menyandarkan diri pada sang Ayah. Ketika anak menyaksikan pemandangan ini, betapa sejuknya hati seorang anak. Kehangatan inilah yang akan menjadi bekal anak kelak kalau sudah dewasa.

2.    Peluk, Cium Ketika Mengucapkan ‘’Selamat Ulang Tahun’’.
Ciumlah pipi kanan dan kiri pasanganmu, dan peluklah dia dengan mengucapkan’’ Selamat Ulang Tahun’’. Jangan lupa, mendo’akan pasangan dengan keberkahan hidup, banyak rejeki, dan juga sehat jasmani dan ruhani. Kado yang telah dipersiapkan di buka, dengan mengucapkan ‘’ bismillah’’, sebagai tanda syukur kepada-Nya serta rasa terima kasih kepada orang yang telah memberikan kado.

3.    Memilih ‘’Ungkapan Yang Pling Indah’’.

Biasakan memanggil pasangan dengan kalimat yang sangat indah dan menyenangkan. Nabi Saw selalu memilih kata-kata indah dan menyenangkan ketika memanggila istrinya, seperti; Ya khumaira’ yang artinya ‘’ Wahai istri yang kemerah-merahan pipinya’’.  Orang Jawa sering memanggil istrinya dengan ‘’namanya’’. Ternyata, ini kadang menimbulkan kesan yang kurang baik terhadap pertumbuhan anak-anaknya. Carilah istilah yang menyenangkan seperti “I love you“, Sayang….dan banyak lagi yang lainnya. Sering-seringlah menampakkan panggilan itu didepan anak-anak, agar supaya kesan positif tertanam pada benak mereka. Anda juga bisa menggunakan istilah lain yang mencerimkan rasa kasih sayang terhadap pasangan. Yang penting ialah, anak-anak tahu. Jangan sampai merasa malu atau gensi untuk mengungkapkan perasaan sayang.

Pada hakekatnya, apa yang diperlihatkan orangtua sehari-sehari itu merupakan pendidikan keteladanan bagi anak-anaknya. Jika yang diperlihatkan positif, maka karakter anak akan terbangun secara postitif, dan begitu juga sebaliknya. Berusahalah, dan berusahalah…..! agar senantiasa anak terus membanggakan kedua orangtuanya. Tetapi jangan lupa, berikan mereka pendidikan moral yang cukup, sehingga kelak menjadi anak yang bisa menjadi penyejuk mata kedua orangtua, dan juga setiap mata yang memandangnya, bukan karena kecantikan fisik, tetapi karena keluhuran budi pekertinya.

 

One Response so far.

  1. Pete Bjorn mengatakan:

    I just want to say I am newbie to blogging and seriously loved this web page. More than likely I’m going to bookmark your blog . You surely have fantastic writings. Thanks a bunch for revealing your website.


Facebook Like Box provided by technology news
  • Facebook